Kalau anda mendapat tawaran bekerja di luar negeri melalui headhunter, ada baiknya anda cek dan banyak-banyak bertanya lah dulu masalah dokumen dan tentunya jangan mudah yakin dengan headhunter. Cek dokumen disini artinya terutama jangan pernah anda menyerahkan paspor anda (jika anda sudah punya paspor) begitu saja, sebaiknya tanyakan dulu dan mintalah jaminan keberadaan paspor anda itu nantinya. Mengenai headhunter, saya akan sedikit jelaskan di sini.
Saya mengalami sendiri kejadian ini dan sungguh tidak mengenakkan, beberapa bulan lalu (mulai dari bulan Agustus 2008), sebuah headhunter menghubungi saya dan menawari saya untuk bekerja sebagai seorang tenaga ahli di Saudi Arabia, mereka kemudian menghubungkan saya dengan pihak perusahaan yang berada di Saudi Arabia tersebut. Setelah melalui proses seleksi dan test yang memakan waktu sekitar 1-2 bulan, akhirnya saya lolos, dan diterima untuk bekerja di perusahaan Saudi tersebut. Proses selanjutnya tentunya adalah mengurus segala dokumen yang diperlukan, mulai dari dokumen kesehatan (tes kesehatan), paspor, sampai visa kerja.
Kondisi saya saat itu adalah saya sudah mempunyai paspor (saya sudah mempunyai paspor dari tahun 2007, 5 Juni), dan waktu itu tentunya saya merasa sangat terbantu, dengan saya yang sudah memiliki paspor (jadi saya tidak harus melalui tahapan membuat paspor). Selesai tes kesehatan, proses selanjutnya yang saya perkirakan adalah penyerahan paspor atau mungkin langsung ke pengurusan visa, tapi ternyata tidak. Saya tanyakan ke pihak headhunter, ternyata mereka menjawab bahwa tahap selanjutnya adalah mengganti paspor (buat yang sudah punya), jadi nantinya paspor saya akan diminta dan diganti dengan paspor baru (paspor TKI, mereka menyebutnya demikian), dari sinilah saya mulai merasa tidak nyaman, logika saya waktu itu berpikir bahwa, ‘paspor kan sama dengan KTP, kenapa harus diganti?’. Saya coba bertanya dan coba meminta dan meyakinkan pihak headhunter untuk saya tetap memakai paspor saya, pihak headhunter terus bersikeras dan menerangkan bahwa nanti saya akan berangkat melalui agen, dan agen ini lah yang mengurus segala dokumen, mulai dari paspor sampai ijin kerja. Saya waktu itu tidak ada pikiran jelek sama sekali, saya hanya bertanya ketika itu, ‘apakah paspor ini nantinya bisa dipakai untuk berpergian kemana saja atau hanya berlaku sebagai paspor untuk bekerja?’ si pihak headhunter pun sempat bingung, dan akhirnya bertanyalah mereka ke agen, dan akhirnya saya dapat jawaban bahwa ‘paspor tersebut berfungsi sama dengan paspor biasa hanya saja paspor ini nantinya ada stempel dari pihak agen yang menerangkan bahwa yang memiliki paspor ini bekerja di sana melalui agen yang bersangkutan’, mereka juga bilang bahwa kalau memakai paspor ini, nantinya kalau ada apa-apa di sana biar lebih mudah mengurusnya, saya yang belum pernah bekerja di luar negeri dan mengikuti proses seperti ini, akhirnya meskipun dengan sangat ragu-ragu ketika itu, saya pun menyetujui proses pemberian/penukaran paspor. Dan si pihak headhunter bilang bahwa saya harus ke Tangerang(???) untuk mengurus penukaran paspor ini, melalui Kantor Imigrasi di sana dengan nantinya ditemani oleh pihak agen.
Setelah beberapa kali tertunda karena urusan kantor tempat saya bekerja, akhirnya tibalah harinya bagi saya untuk mengurus penukaran paspor tersebut, pihak headhunter hanya meng-guide saya melalui telfon (karena ketika itu menurut alasannya, beliau berhalangan) untuk bertemu dengan pihak agen di Kantor Imigrasi Tangerang. Sesampainya saya disana saya mencoba menghubungi pihak agen, dan akhirnya bertemulah saya dengan mereka. Bayangan anda mungkin si agen ini adalah orang kantoran dengan segala atributnya (rapi, necis, yah…sebagaimana layaknya orang kantoran lah) dan dengan segalanya telah disiapkan, tapi ternyata tidak! Si agen ini ternyata 2 orang perempuan, 1 setengah baya (penampilannya mirip ibu rumah tangga dan seperti ibu-ibu di pasar), dan 1 lagi masih muda (mungkin seumuran saya atau malah di bawah umur saya), dan mereka ternyata juga sedang mengurus keberangkatan beberapa TKI pekerja kasar mulai dari pembantu hingga sopir (dengan segala hormat dan tanpa bermaksud merendahkan profesi mereka). Setelah bertemu saya pun diberikan segala dokumen saya yang nanti diperlukan untuk menukar paspor, saya sangat kaget ketika di situ ternyata ada KK, dan akte kelahiran yang semuanya rekayasa. Meskipun saya sangat ragu dan semakin tidak nyaman, saya tidak sempat bertanya dan yang ada di pikiran saya waktu itu adalah, saya sudah sampai sejauh itu dan hampir tidak ada pilihan lagi, jadi saya berkeinginan secepatnya saja selesai urusan ini.
Dengan setelah dibentak2 dan dimaki2 oleh pihak imigrasi (beginilah mereka memperlakukan para calon TKI (terutama pekerja kasar, dan anehnya setelah tahu bahwa saya tenaga ahli dan lulusan universitas, mereka tidak lagi berani membentak dan memaki2)) akhirnya selesai lah proses tersebut dan saya pun kembali pulang dan tinggal menunggu instruksi dari pihak headhunter untuk proses yang harus dilalui selanjutnya.
Headhunter waktu itu hanya bilang bahwa proses selanjutnya adalah pengurusan visa kerja, dan saya tinggal menunggu saja keluarnya work permit tersebut. Dengan tenang saya pun kembali bekerja di kantor saya yang lama dan menunggu hasil dari aplikasi work permit tersebut.
Selang beberapa minggu, pihak perusahaan melalui headhunter mengabari bahwa saya batal untuk berangkat ke Saudi Arabia dikarenakan saya terlalu lama dalam mengurus dokumen. Dari situ saya bisa terima alasannya, dan langkah saya selanjutnya adalah tentunya saya meminta paspor saya. Pihak headhunter berjanji akan mencoba ikut membantu pengurusan paspor saya untuk kembali, tapi setelah berkali2 saya tanya dan tidak ada progress yang berarti, mereka hanya menjawab, ‘Itu sama agennya, kalau mau kita bisa hubungkan dengan agennya’, saya disini sudah jengkel, dan saya pun coba tanya lagi, kira-kira bisa atau tidak paspor saya itu balik atau apapun lah caranya bagaimana supaya saya mendapatkan paspor saya kembali. Jawaban headhunter lagi-lagi membuat saya kesal ‘Ini tadi baru saja kami tanya ke agen, mereka minta 1 juta rupiah untuk pengembalian paspor, dan itu di luar urusan kami, kalau bersedia, kita bisa hubungkan ke agennya, atau mas Andy mau nomor agennya? dan susah sih mas, dari awal ini kan sebenarnya gambling juga, mas juga terlalu lama sih’ Diberitahu seperti itu saya pun putus asa, masa paspor saya sendiri saya harus bayar lagi 1 juta? belum lagi saya mungkin harus ke Jakarta atau Tangerang untuk mengurus paspor tersebut. Dan sebagai akibat dari itu, sekarang saya mengurus paspor saya lagi melalui Imigrasi tempat saya tinggal, dan prosesnya sangat rumit.
Bagi anda yang mendapat tawaran seleksi untuk bekerja ke luar negeri dari People Search Indonesia, harap berhati-hati, mereka bisa sedemikian mudahnya lepas tangan jika anda ingin menuntut apa yang seharusnya jadi hak anda, dan mereka menggunakan agen yang sungguh sangat tidak qualified (menurut saya) dan menghalalkan segala cara, bahkan bisa dibilang illegal untuk proses pemberangkatan tenaga kerja. Semoga kejadian yang saya alami bisa menjadi pembelajaran.














My name is
nasip lu coiy…coiy…
faiz June 9, 2009 — 3:05 am
yoi cis…blom rejeki :)
andy June 10, 2009 — 6:22 pm
Be careful, takutnya paspormu dipake untuk pengiriman TKI dengan ijin palsu.
Saran: Publish ini ke media-media (well, mudah2an tidak kasus spt Prita) biar pihak People Search bertanggungjawab.
+ Next time talk to me, ndy. I’d been there before.
avianto June 12, 2009 — 10:33 pm
Iya pak, mereka ga mau tau sama sekali, lari begitu aja, padahal harusnya kan mereka yang ngurus semuanya, agennya juga sama sekali bukan agen yang bener2 profesional, mereka memalsukan KK (syarat buat paspor) segala.
Sampai sekarang ga ada sama sekali penjelasan dari si headhunter, dan ujung-ujungnya ini ngurus paspor baru jadi malah ribet, sebenernya mau publish dari kemarin2…nunggu mereka dan ternyata ga ada jawaban sama sekali. Yah, minimal buat pengalaman aja :)
Thanks, kalo ada kesempatan lagi saya tanya2 dulu deh :)
andy June 12, 2009 — 10:55 pm
Baru release full version ni storynya…
Kacaw banget ibu-ibu pasarnya.. .main lepas tangan aja.
“dan anehnya setelah tahu bahwa saya tenaga ahli dan lulusan universitas, mereka tidak lagi berani membentak dan memaki2″
Dengan cara apa mereka tau elo lulusan Universitas bro?
Ga sopan banget ya..
Thanks sharingnya
tomfreakz June 13, 2009 — 12:29 am
Yang jadi masalah sebenernya bukan ibu-ibunya Tom, tapi kenapa si headhunter itu (yang dari namanya aja udah keren, headhunter plus nama company nya yang ‘wah’) kok bisa mereka menyerahkan urusan keimigrasian dengan orang2 seperti ibu2 itu (baca: agen ‘hitam’) dan kemudian lari begitu aja tanpa sedikit pun membantu mengurusi pengembalian paspor.
Soal perlakuan kasar, lo bisa cek di sana (Dinas Imigrasi Tangerang, Banten) atau mungkin malah di seluruh dinas imigrasi yang ngurus pemberangkatan TKI mungkin ya. Elo salah dikit aja (misal lupa naro tas, atau rambut kurang rapi/ga dikucir (buat cewe)), elo bisa dibentak-bentak, dan juga bercandaan atau ejekan mereka yang mengarah ke masalah fisik (misal elo gendut atau item). Gw jujur miris, TKI disini diperlakukan kaya gitu, padahal itu masih di negara sendiri.
Mereka tau gw lulusan univ. setelah ngeliat berkas2 gw (disitu dicantumin kalo kerjaan gw ‘Programmer/Computer Science’), yang awalnya gw juga ikut dibentak-bentak, tiba2 dia langsung senyum dan mempersilahkan dan melayani dengan baik2.
Dari awal gw juga udah ga enak pas mereka (si headhunter dan agen) meminta paspor untuk dituker. Soalnya gw yang dulu pernah ikut seleksi dan lolos di perusahaan lain di luar juga (meskipun gw ga jadi berangkat juga waktu itu, karena belum punya paspor, dan paspor tersebut jadinya agak telat sampai akhirnya mereka meng-cancel tawaran mereka), mereka ga pernah meminta penggantian paspor dlsb, mereka cuma tanya, punya paspor atau ngga, itu aja, dan segala urusan keimigrasian akan diurus oleh mereka kecuali paspor yang mana elo wajib punya (mereka sudah membuat statement itu dari awal), dan ga ada yang namanya paspor TKI dan paspor sipil.
Sekali lagi ati2..kalo dapet kesempatan kerja di luar, tapi pemberangkatannya via headhunter dan agen atau pihak ketiga lainnya, elo cek dulu proses dan validitas si pihak ketiga itu.
Semoga sharing ini berguna.
andy June 13, 2009 — 4:14 pm
Waduh pak, kasian/miris amat nih orang yang di cerita hehe.
Emang betul tuh kadang petugas2 di pemerintahan ga kalah kasarnya loh sama “penggebuk” di luar negeri. Aku juga pernah tuh beberapa bulan yang lalu pas tes NAPZA di RS, petugas situ maen bentak2 aja. Jadi pengen share nih…:)
Nah waktu itu aku ngasih berkas ke loket berikutnya, trus si bapak ngebentak gw seketika :
Bapak Edan : “Ini berkas kok dikasih ke loket ini? ini kan di stempel dulu potonya!!!!, baru dikasih ke loket ini”
Aku : “loh pak, saya liat di gambar kan begini, abis dr loket A trus stempel di loket bapak ini, mana saya tau ada stempelnya!!! (ga kalah sewot bentaknya)”
Bapak Edan : “emang ga liat apa tuh stempelnya!!!”
(tau ga sih lo, stempelnya ada dimana? di lantai bo’ tergeletak begitu saja. Tau gitu langsung aja kusambut dengan sewot juga, hehe)
Aku : “loh siapa yang tau kalo digeletakin begitu pak? emang disitu tempat taruh stempel apa??”
Bapak Edan : Speechless
Jelas, bt banget liat bapak itu, dan ternyata yg lain ga berani melawan, kasian juga liat orang dibentak2 gitu.
Kadang mereka sopan kalo kita berani melawan, harusnya kan bukan begitu ya? Emang pelayanan publik di negara kita kacau.
Eh, kok jadi aku yang cerita ya? hehe
Een June 16, 2009 — 4:10 pm